Berita

SAPX Anggarkan Capex Rp 60 Miliar untuk Ekspansi

publik ekpos sap express

Emiten jasa kurir pengiriman barang dengan jangkauan cash on delivery (COD), PT Satria Antaran Prima Tbk (SAPX) atau lebih dikenal sebagai SAP Express menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 50-60 miliar untuk ekspansi.

Sekretaris Perusahaan PT Satria Antaran Prima Tbk Denny Parhan menjelaskan, capex dipergunakan untuk menambah jaringan infrastruktur seperti kantor cabang dan subcabang. ”Di tahun ini perseroan juga menambah gudang untuk usaha fulfillment, menambah armada kendaraan, dan jumlah kurir untuk mendukung kegiatan operasional,” katanya dalam keterangan resmi, Selasa (16/3/2021).

Untuk ekspansi jaringan, SAP Express akan menambah beberapa kantor cabang, terutama di pulau Jawa, Bali, Sumatera, dan daerah daerah lain yang potensial. Target perseroan untuk pulau Jawa adalah memiliki cabang atau subcabang di setiap kabupaten karena volume kiriman paling banyak ada di Jawa. Sementara daerah lain akan mengikuti secara bertahap sesuai perkembangan industri dan usaha perseroan.

Denny mengatakan, tahun 2021 ini, perseroan berencana fokus pada inti bisnis yaitu di layanan last mile dengan pengembangan derivatif dari bisnis ini seperti layanan warehouse atau fulfilment, bulky shipment, ritel bisnis dan sebagainya.

Secara segmentasi, perseroan pada tahun ini mencoba lebih mengembangkan lini usaha retail dengan penetrasi yang lebih dalam pada segmen e-commerce dan social commerce di samping segmen tradisional yaitu di korporasi. ”Selain itu, perseroan juga membidik segmen marketplace karena cukup menjanjikan dari sisi volume dapat me-leverage pertumbuhan pendapatan perseroan,” tambah dia.

Dia mengatakan, sumber pendanaan capex dari kas perseroan. Namun, jika kurang perseroan akan mencari alternatif lainnya seperti pinjaman dan lainnya.

Hingga kuartal III 2020, SAP Express mencatat pendapatan sebesar Rp 329,92 miliar, naik dari periode yang sama di tahun 2019 mencatat Rp 274,91 miliar. Laba bersih sebesar Rp 25,58 miliar, meningkat dibandingkan periode yang sama di tahun 2019 yang hanya Rp 18,17 miliar.

”Hal ini sebenarnya tidak mengejutkan karena di saat pandemi banyak toko atau tempat belanja konvensional tutup atau beroperasi secara terbatas, ini mengakibatkan orang-orang mengubah pola belanjanya menjadi online atau e-commerce,” pungkasnya.

Dia mengatakan, potensi usaha online di Indonesia sangat besar. Hal ini berdampak pada usaha kurir yang merupakan turunan bisnis online.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.