Memotret Top 20 Rising Star Brand Indonesia


Posted on 2019-08-21 10:27:51

Kali ini SWA bersama firma riset pemasaran Business Digest menjaring 20 merek rising star terbaik asli Indonesia, menggunakan metodologi kuantitatif berbasis tiga parameter. Siapa saja mereka?

Yanto Suryanyah (32 tahun) belakangan ini lebih sering menggunakan jasa jurir SAP Express ketika berbelanja online untuk keperluan pribadinya melalui berbagai situs jual-beli online (e-commerce). Bukan hanya karena faktor harga yang menurutnya lebih murah, tetapi juga karena layanannya yang memuaskan. Terkadang Yanto menggunakan layanan SAP Express untuk jenis paket Same Day Service (hari itu kirim hari itu sampai di tempat tujuan), terutama untuk barang-barang yang urgent, tetapi terkadang ia menggunakan paket Regular Service. Yang juga membuatnya tertarik, provider jasa kurir ini menyediakan pula jasa pengiriman barang dengan model cash on delivery (COD) atau bayar di tempat.

Ketertarikan Yanto pada SAP Express sangat masuk akal, dan bukan hanya dia penggemar SAP Express yang tergolong pemain kurir baru ini. Merek layanan kurir ini memang sedang naik daun, bukan hanya di kalangan pengguna individual tetapi juga korporat. Perusahaan yang sudah bekerjasama untuk memberikan layanan COD dengan 120 perusahaan e-commerce itu juga sudah dipercaya oleh korporasi besar seperti Bank Mandiri, BCA, Adira Finance, Indofood, Unilever, Zilingo, Lazada, dan Blibli.

Makin moncernya pamor SAP Express juga bisa dilacak dari pertumbuhan kinerja pendapatan PT Satria Antaran Prima Tbk. yang menaungi merek ini. Pada kuartal I/2019 SAP Express telah memperoleh pendapatan Rp 84,05 miliar, meningkat 74,41% dibandingkan tahun sebelumnya, Rp 48,21 miliar.

SAP Express hanyalah salah satu dari 20 merek asli Indonesia yang sedang menanjak kinerjanya (rising star brand) yang berhasil dijaring SWA dan firma riset Business Digest. Untuk mendapatkan Top 20 Rising Brand, berbagai merek diseleksi melalui serangkaian metodologi kuantitatif. Dimulai dari menginventarisasi merek-merek asli Indonesia yang kinerjanya memang sedang menanjak, dan merek tersebut maksimal berumur lima tahun (diluncurkan pada 2014 keatas). Merek tersebut harus mampu menerobos pasar, eksis, dengan tingkat penetrasi yang makin meningkat dari tahun ke tahun sejak kehadirannya.

Setelah merek yang memenuhi persyaratan tersebut terkumpul, merek-merek itu dicek dan disurvei ke konsumen dengan menggunakan metode kuantitatif. Yakni, dengan menanyai konsumen merek-merek itu, dan mengukurnya dengan menggunakan tiga parameter, yaitu tingkat kepuasan pelanggan, tingkat loyalitas pelanggan, dan tingkat kesediaan pelanggan untuk merekomendasikan merek tersebut (advokasi). Dari survei konsumen tersebut, diperoleh skor setiap merek untuk ketiga parameter dan skor rata-ratanya. Lalu, dipilih 20 merek dengan skor rata-rata tertinggi. Hasil dari skor 20 merek tertinggi itu bisa dilihat di Tabel.

 

Sumber: Majalah SWA Edisi 14, 25 Juli-7 Agustus 2019